Kandungan gizi dan keamanan pangan dari jajanan tradisional yang dijual di sekitar lingkungan sekolah kini tengah menjadi perhatian serius bagi banyak pihak, terutama para orang tua dan guru. Banyak sekali jajanan pasar menarik yang sayangnya sering kali dicurigai mengandung bahan kimia berbahaya demi meningkatkan tampilan visual atau memperpanjang masa kedaluwarsa secara instan. Sebagai langkah antisipasi, melakukan pengujian laboratorium sederhana untuk mendeteksi kandungan zat aditif berbahaya seperti boraks pada makanan menggunakan bahan alami di sekitar kita merupakan langkah edukatif yang sangat penting untuk diterapkan di sekolah.
Uji coba pangan sederhana ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan tanaman kunyit sebagai indikator alami yang sangat sensitif terhadap kandungan senyawa kimia tertentu. Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang akan mengalami perubahan warna yang sangat mencolok ketika bereaksi dengan bahan kimia yang bersifat basa kuat seperti boraks yang sering disalahgunakan pada makanan. Melalui praktikum biologi atau kimia ini, siswa belajar mengidentifikasi keamanan pangan secara mandiri tanpa harus menggunakan peralatan laboratorium modern yang mahal dan sulit dijangkau oleh sekolah-sekolah di daerah.
Proses pengujian dimulai dengan menghaluskan sampel jajanan pasar seperti bakso, mi basah, atau kerupuk gendar, lalu mencampurkannya dengan sedikit air bersih di dalam wadah pengujian. Setelah itu, air perasan kunyit yang berwarna kuning pekat diteteskan ke dalam larutan sampel makanan tersebut dan diaduk secara merata selama beberapa menit. Jika sampel makanan tersebut mengandung boraks atau zat aditif berbahaya lainnya, warna kuning kunyit akan berubah drastis menjadi warna merah bata atau kecokelatan yang pekat, menandakan adanya reaksi kimia berbahaya pada makanan tersebut.
Sebaliknya, jika setelah ditetesi air kunyit warna larutan sampel tetap berwarna kuning cerah atau jingga muda, maka makanan tersebut dapat dipastikan aman dari kandungan pengawet kimia berbahaya. Melalui pengamatan visual yang sangat sederhana namun akurat ini, siswa diajak untuk lebih kritis dan selektif dalam memilih makanan yang akan mereka konsumsi setiap hari demi menjaga kesehatan tubuh jangka panjang. Kegiatan ilmiah ini secara langsung juga meningkatkan kesadaran siswa akan bahaya konsumsi bahan kimia sintetis secara berlebihan pada tubuh mereka.
Dengan membiasakan kegiatan eksperimen uji pangan di sekolah, para siswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis mengenai klasifikasi berbagai jenis zat aditif dalam buku pelajaran sains mereka. Mereka juga dilatih untuk memiliki tanggung jawab sosial dengan menyebarkan informasi bermanfaat ini kepada teman sebaya, keluarga, hingga para pedagang makanan di sekitar sekolah agar lebih peduli terhadap kesehatan bersama. Edukasi praktis ini menjadi langkah nyata dalam menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas, kritis, dan peduli terhadap kualitas pangan bangsa di masa depan.