Pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara, namun realita di lapangan seringkali menunjukkan pemandangan yang sangat memprihatinkan. Di berbagai pelosok nusantara, anak-anak sekolah harus Bertaruh Nyawa setiap pagi demi mencapai ruang kelas yang sederhana. Mereka terpaksa melewati infrastruktur rusak yang tidak layak digunakan akibat kurangnya perhatian dari pemerintah daerah.
Jembatan gantung yang sudah keropos dan bergoyang hebat menjadi satu-satunya akses penghubung antar desa yang terisolasi oleh sungai besar. Para siswa dengan seragam putih merah tampak berpegangan erat pada kawat berkarat sambil meniti papan kayu yang lapuk. Aksi Bertaruh Nyawa ini dilakukan secara rutin demi masa depan yang lebih baik.
Kondisi infrastruktur yang ekstrem ini mencerminkan adanya ketimpangan pembangunan yang sangat mencolok antara wilayah perkotaan dan daerah pedalaman. Padahal, semangat belajar anak-anak di desa tersebut sangat luar biasa meskipun fasilitas penunjang sangatlah minim. Keharusan untuk Bertaruh Nyawa di atas sungai yang deras seharusnya tidak terjadi pada era modern seperti sekarang.
Hujan deras yang sering mengguyur wilayah pegunungan membuat debit air sungai meningkat dan kondisi jembatan menjadi semakin sangat licin. Para orang tua sering merasa cemas setiap kali melepaskan anak-anak mereka pergi menuntut ilmu ke sekolah terdekat. Namun, pilihan untuk Bertaruh Nyawa tetap diambil karena tidak ada rute jalan alternatif lainnya.
Pemerintah pusat dan daerah perlu segera melakukan pemetaan terhadap titik-titik rawan yang membahayakan nyawa para pejuang literasi kecil. Alokasi dana desa harus diprioritaskan untuk memperbaiki aksesibilitas dasar seperti jembatan dan jalan setapak yang layak. Jangan sampai ada lagi kabar duka tentang anak sekolah yang terjatuh ke sungai saat berangkat.
Selain faktor keamanan fisik, beban psikologis yang dialami oleh anak-anak ini juga sangat mempengaruhi kualitas konsentrasi belajar mereka. Ketakutan yang muncul setiap kali menyeberang dapat menghambat perkembangan mental dan semangat juang mereka dalam mengejar prestasi. Perlindungan terhadap akses pendidikan adalah tanggung jawab moral yang harus dipenuhi oleh seluruh elemen bangsa.